Kekecewaan terhadap lambatnya redistribusi tanah memicu lahirnya fenomena Aksi Sepihak yang dilakukan oleh ribuan petani di berbagai wilayah, terutama Jawa. Gerakan ini melibatkan pendudukan lahan secara langsung dan pembagian hasil panen yang dianggap lebih adil bagi penggarap. BTI berperan sebagai motor penggerak utama dalam mengorganisir massa tani di lapangan.
Secara hukum, para petani merasa memiliki landasan kuat melalui UUPA 1960 untuk mengambil alih tanah yang luasnya melebihi batas maksimum. Namun, di lapangan, Aksi Sepihak sering kali berbenturan dengan kepentingan para pemilik tanah luas dan aparat keamanan setempat. Konflik fisik pun tidak jarang terjadi akibat sengketa lahan yang sangat tajam ini.
Bagi BTI, melakukan Aksi Sepihak adalah cara paling efektif untuk memaksa pemerintah segera menjalankan agenda land reform secara konsisten dan transparan. Mereka beranggapan bahwa tanpa tekanan massa yang kuat, hak-hak kaum tani akan terus diabaikan oleh para elit politik. Strategi ini berhasil mendudukkan isu agraria sebagai prioritas utama dalam diskursus nasional.
Pemerintah pusat sebenarnya telah mengeluarkan peraturan pelaksana untuk mendukung redistribusi lahan, namun hambatan birokrasi di tingkat lokal sangatlah besar. Ketidaksiapan administrasi sering kali dijadikan alasan untuk menunda eksekusi tanah obyek land reform. Inilah yang memicu ledakan kemarahan petani sehingga mereka memilih jalan Aksi Sepihak sebagai solusi terakhir.
Dampak dari gerakan ini menciptakan polarisasi politik yang semakin tajam antara kelompok revolusioner dengan kelompok konservatif di wilayah pedesaan Indonesia. Ketegangan ini merembet hingga ke tingkat nasional, mempengaruhi stabilitas politik pemerintahan Presiden Soekarno yang sedang menghadapi tekanan luar biasa. Isu tanah menjadi garis pemisah yang sangat tegas di masyarakat.
Sejarah mencatat bahwa konflik agraria masa itu memberikan pelajaran tentang pentingnya penyelesaian sengketa tanah yang adil dan beradab. BTI telah menunjukkan bahwa kekuatan petani yang terorganisir mampu mengguncang tatanan lama yang dianggap menindas rakyat kecil. Meskipun penuh kontroversi, gerakan ini tetap menjadi bagian penting dari sejarah reforma agraria kita.
