Kabar duka menyelimuti konservasi gajah Sumatera di Jambi. Seekor anak gajah Sumatera ditemukan mati di bantaran Sungai Tabir, Desa Telentam, Kecamatan Tabir Barat, Kabupaten Merangin. Anak gajah berjenis kelamin jantan yang diperkirakan berusia 3-4 tahun ini diduga kuat menjadi korban banjir bandang yang melanda wilayah tersebut.
Penemuan anak gajah malang ini terjadi pada Sabtu (6/1/2024). Kondisinya saat ditemukan sudah mulai membusuk. Tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi segera turun ke lokasi untuk melakukan evakuasi dan pemeriksaan lebih lanjut terhadap bangkai anak gajah tersebut.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Jambi, Udin, membenarkan penemuan anak gajah mati ini. Pihaknya menyatakan akan melakukan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan penyebab kematiannya. Meskipun laporan awal menyebutkan anak gajah itu mati karena terseret arus banjir bandang, BKSDA juga akan menyelidiki kemungkinan adanya faktor lain, termasuk potensi pelanggaran kehutanan mengingat status gajah Sumatera sebagai satwa dilindungi.
“Nah, informasi awal ini kan kita dapat terbawa arus banjir bandang di area Sungai Tabir. Tim akan menindaklanjuti kembali, apakah memang mati terbawa arus atau ada dugaan barangkali kejahatan pelanggaran kehutanan di sana. Apalagi itu adalah gajah Sumatera yang dilindungi,” ujar Udin seperti dikutip dari 20.detik.com.
Tim gabungan yang terdiri dari BKSDA, TNKS, Polhut, dan dokter hewan akan diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan lebih detail terkait penyebab kematian anak gajah tersebut. Udin menambahkan bahwa pihaknya belum dapat memastikan kapan точно kematian gajah itu terjadi, namun laporan baru diterima pada hari penemuan.
Kematian anak gajah Sumatera ini menambah catatan kelam bagi upaya konservasi spesies yang semakin terancam punah ini. Bencana alam seperti banjir bandang menjadi ancaman serius bagi populasi gajah, terutama di tengah kondisi habitat yang semakin tertekan.
Tragedi ini kembali mengingatkan betapa rentannya populasi gajah Sumatera terhadap ancaman bencana alam di tengah kondisi habitat yang semakin tertekan oleh aktivitas manusia. Upaya konservasi yang lebih intensif dan perlindungan kawasan hutan yang berkelanjutan menjadi semakin mendesak untuk mencegah hilangnya lebih banyak lagi satwa langka kebanggaan Indonesia.
