Jalan Berbatu dan Mobil Mogok: Perjuangan Siswa di Bangkalan Angkut MBG ke Sekolah

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bertujuan meningkatkan gizi anak sekolah, ternyata menyisakan kisah pilu tentang infrastruktur yang tidak memadai di daerah terpencil. Di Bangkalan, Madura, Perjuangan Siswa untuk membawa makanan dari titik distribusi ke sekolah mereka menjadi cerminan nyata dari disparitas pembangunan. Jalan berbatu dan akses yang sulit, ditambah masalah logistik, seringkali membuat makanan datang terlambat atau bahkan rusak. Kondisi ini memperlihatkan bahwa keberhasilan sebuah program nasional tidak hanya bergantung pada alokasi anggaran, tetapi juga pada kondisi lapangan yang ekstrem.

Perjuangan Siswa di SD Negeri Banyuajuh 05, Bangkalan, adalah salah satu contoh yang paling menonjol. Sekolah ini terletak sekitar 5 kilometer dari pusat desa terdekat, di mana titik serah terima makanan MBG dilakukan. Jalan menuju sekolah merupakan kombinasi dari tanah liat dan bebatuan besar yang nyaris tidak bisa dilalui kendaraan roda empat biasa, apalagi saat musim hujan. Setiap hari Selasa dan Jumat pukul 08.00 WIB, tiga orang Perjuangan Siswa yang ditunjuk, dibantu oleh seorang guru honorer, harus menggunakan gerobak kecil atau sepeda motor yang dimodifikasi untuk mengangkut kotak-kotak makanan tersebut.

Pada Jumat, 26 September 2025, terjadi insiden yang menunda distribusi makanan. Mobil van catering yang membawa 250 porsi makanan untuk SD dan SMP di gugus tersebut mogok total di tengah jalan berbatu sekitar pukul 07.30 WIB karena shockbreaker patah. Akibatnya, kepala sekolah harus menghubungi warga desa terdekat untuk meminta bantuan. Perjuangan Siswa dan beberapa pemuda desa akhirnya bahu-membahu mengangkut makanan tersebut menggunakan sepuluh sepeda motor yang membawa tumpukan kotak di belakang jok. Makanan baru tiba di sekolah pada pukul 10.00 WIB, melewati jam istirahat pertama, dan beberapa porsi dilaporkan sudah tidak hangat lagi.

Situasi ini bukan hanya masalah logistik, tetapi juga masalah keamanan pangan dan keselamatan anak. Perjuangan Siswa yang membawa makanan melewati medan yang berbahaya rentan mengalami kecelakaan. Pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan telah berkoordinasi dengan Satuan Tugas Program Gizi (Satgas PG) di Jakarta untuk meminta peningkatan anggaran logistik atau pengadaan kendaraan operasional khusus. Mereka mengusulkan agar jalur distribusi di daerah ekstrem seperti Banyuajuh dilengkapi dengan kendaraan jenis off-road ringan, guna menjamin makanan dapat disalurkan tepat waktu dan dalam kondisi prima.

Kisah dari Bangkalan ini menjadi refleksi penting bagi pembuat kebijakan. Program MBG adalah investasi untuk masa depan bangsa, tetapi investasi tersebut hanya akan maksimal jika infrastruktur dasar, termasuk akses jalan, diperbaiki. Perjuangan Siswa untuk mendapatkan hak gizi mereka harus diakhiri dengan solusi permanen, bukan sekadar upaya heroik sesaat.

journal.pafibungokab.org

learn.pafipemkotkerinci.org

news.pafipemkotpalopo.org