Sebuah kisah luar biasa muncul dari sudut kota Semarang, Jawa Tengah, membuktikan bahwa bakat sejati dapat bersinar di mana saja, bahkan di tengah keterbatasan. Bapak Hadi (55), seorang pelukis jalanan tunawisma yang biasanya tidur di bawah jembatan layang Jalan Pahlawan, kini mendadak menjadi sorotan. Karya-karya orisinalnya yang sarat emosi kini diburu kolektor asing, menjadikannya fenomena baru dalam dunia seni kontemporer. Kisah ini adalah bukti inspiratif tentang bakat terpendam dari seniman tunawisma.
Selama hampir dua puluh tahun, Bapak Hadi hanya melukis di atas kardus bekas atau tripleks sisa, menggunakan cat minyak seadanya yang ia beli dari hasil meminta-minta atau menjual barang rongsokan. Ia biasa melukis pemandangan kota, wajah-wajah orang yang lalu-lalang, dan potret diri yang gelap, yang semuanya mencerminkan kehidupan keras di jalanan. Titik balik hidupnya terjadi pada Sabtu, 9 November 2024, ketika seorang mahasiswa seni dari Universitas Diponegoro (Undip), yang sedang melakukan penelitian sosial, tanpa sengaja mengunggah foto lukisan Bapak Hadi di media sosial.
Foto tersebut viral dalam hitungan jam, menarik perhatian seorang kurator galeri seni dari Belanda, Ms. Clara van Deventer. Ms. Clara yang sedang berada di Indonesia, langsung terbang ke Semarang untuk mencari pelukis jalanan tersebut. Setelah berhasil menemukannya pada Kamis, 14 November 2024, Ms. Clara terkejut melihat kedalaman artistik lukisan-lukisan itu. Ia segera membeli tiga karya terbaik Bapak Hadi dengan harga fantastis, mencapai Rp 45 juta, dan berjanji akan menggelar pameran kecil di Eropa. Karya-karya Bapak Hadi kini secara resmi diburu kolektor asing.
Fenomena ini menarik perhatian Pemerintah Kota Semarang. Kepala Dinas Sosial Kota Semarang, Bapak Eko Prasetyo, S.Sos., M.Si., pada Senin, 18 November 2024, mengumumkan bahwa pihak dinas akan memfasilitasi penempatan Bapak Hadi di rumah singgah agar ia bisa melukis dengan layak. “Bapak Hadi adalah aset kota yang harus kita lindungi. Kami akan memastikan seniman tunawisma ini mendapatkan dukungan penuh untuk mengembangkan bakatnya,” ujar Bapak Eko Prasetyo dalam konferensi pers.
Berkat penjualan lukisan dan perhatian media, Bapak Hadi kini memiliki tempat tinggal yang layak dan akses ke material seni yang memadai. Ia sedang mempersiapkan pameran tunggalnya di Jakarta yang dijadwalkan pada Maret 2026. Kisah Bapak Hadi mengajarkan kita bahwa seni tidak mengenal kelas sosial dan bahwa karya seniman tunawisma dapat memiliki nilai yang setara, bahkan lebih tinggi, dari seniman mapan. Keberaniannya untuk terus berkarya telah mengubah nasibnya, menjadikannya ikon pelukis jalanan yang karyanya diburu kolektor asing.
