Pertanyaan “Siapa dalang di balik penggunaan Pengawet Mayat (formalin) dalam makanan?” menunjuk pada jaringan produsen nakal yang menempatkan keuntungan di atas kesehatan publik. Formalin secara ilegal digunakan dalam tahu, mie basah, dan produk laut untuk memperpanjang daya simpan dan meningkatkan tekstur. Praktik ini adalah kejahatan pangan yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang tidak bertanggung jawab terhadap etika bisnis dan kesehatan masyarakat.
Motif utama penggunaan ini adalah finansial. Bagi produsen skala kecil dan rumahan, formalin adalah solusi murah dan mudah untuk mengatasi masalah pembusukan cepat, terutama di negara tropis tanpa fasilitas pendingin yang memadai. Formalin memangkas biaya operasional, namun konsekuensinya adalah meracuni konsumen secara perlahan.
Dalang di balik penggunaan Pengawet Mayat ini seringkali adalah distributor bahan baku dan oknum penyedia zat kimia. Mereka menyebarkan informasi menyesatkan kepada produsen makanan tentang “manfaat” formalin sebagai penguat tekstur dan pengawet, seolah-olah formalin adalah bahan tambahan pangan biasa, bukan zat berbahaya.
Tantangan bagi aparat penegak hukum adalah rantai pasok yang terfragmentasi. Banyak produsen yang menggunakan Pengawet Mayat ini beroperasi secara sembunyi-sembunyi di kawasan padat penduduk atau pinggiran kota. Mereka tidak memiliki izin resmi dan sulit dilacak oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam pengawasan rutin.
Diperlukan penindakan yang tidak hanya menyasar produsen akhir, tetapi juga pemasok utama zat kimia. Pengawet Mayat ini harus diidentifikasi sumbernya, dan penyuplai formalin yang menjualnya untuk keperluan pangan harus dikenai sanksi berat. Pemberantasan kejahatan pangan harus dilakukan dari hulu ke hilir.
Faktor lain yang membuat penggunaan Pengawet Mayat merajalela adalah kurangnya pengawasan dan kesadaran di tingkat lokal. Pengawasan dari dinas kesehatan dan keamanan pangan di daerah harus diperkuat, termasuk pelatihan kepada petugas pasar untuk melakukan uji cepat (rapid test) terhadap produk makanan yang dicurigai.
Edukasi konsumen memainkan peran penting. Masyarakat harus diberitahu secara detail tentang ciri-ciri makanan yang mengandung Pengawet Mayat, seperti tekstur terlalu kenyal, tidak cepat basi, dan bau kimia yang samar. Konsumen yang cerdas adalah pertahanan pertama melawan praktik curang ini.
Kesimpulannya, dalang utama Pengawet Mayat adalah oknum yang mengabaikan moral demi keuntungan. Menghentikan praktik ini menuntut komitmen bersama: penegakan hukum yang tegas dari pemerintah, peningkatan kewaspadaan masyarakat, dan transformasi industri makanan menuju standar keamanan dan etika yang lebih tinggi.
