The New Bali: Potensi Pariwisata Mandalika dan Dampak Ekonomi Lokal

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, telah diposisikan sebagai “Bali Baru” oleh Pemerintah Indonesia, sebuah upaya ambisius untuk mendiversifikasi destinasi wisata unggulan nasional. Pembangunan infrastruktur berskala internasional, terutama Sirkuit Mandalika, telah membuka mata dunia terhadap Potensi Pariwisata Mandalika yang luar biasa, tidak hanya dari keindahan alamnya tetapi juga dari kemampuannya menyelenggarakan event global. Fokus pembangunan ini kini bergeser dari sekadar infrastruktur fisik menuju dampak nyata yang ditimbulkan pada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat lokal.

Potensi Pariwisata Mandalika didasarkan pada kombinasi unik antara olahraga (sport tourism) dan wisata bahari. Kehadiran Sirkuit Internasional Mandalika, yang telah berhasil menyelenggarakan balap motor dunia, berfungsi sebagai magnet utama, menarik puluhan ribu pengunjung domestik dan internasional. Sebagai contoh, event balap motor yang diadakan pada 19 Oktober 2025 berhasil mendatangkan 75.000 penonton, yang menghasilkan perputaran ekonomi langsung sebesar Rp700 miliar. Dana ini sebagian besar terserap oleh sektor akomodasi, transportasi, dan kuliner lokal. Data dari Badan Pelaksana Otorita Pariwisata (BPODT) mencatat bahwa tingkat hunian hotel di Lombok Tengah mencapai 98% selama periode tersebut.

Selain sport tourism, Potensi Pariwisata Mandalika mencakup pantai-pantai eksotis seperti Pantai Kuta Mandalika dan Pantai Tanjung Aan. Pengembangan pariwisata ini juga telah memicu pembangunan 500 unit homestay yang dikelola oleh masyarakat lokal, sebagai bagian dari program pemberdayaan ekonomi. Program ini, yang didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sejak 2024, bertujuan memastikan bahwa manfaat ekonomi dari pariwisata tidak hanya dinikmati oleh investor besar. Kepala Desa Kuta, Bapak I Wayan Suardana, dalam pertemuan komunitas pada 2 November 2025, melaporkan adanya peningkatan rata-rata pendapatan per kapita warga desa hingga 40% setelah homestay mereka terintegrasi dalam sistem pemesanan resmi.

Meskipun sukses menarik perhatian dunia, tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan antara pembangunan modern dan kelestarian budaya serta lingkungan. PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC) berkomitmen untuk menerapkan prinsip green tourism, yang mencakup penggunaan energi terbarukan dan pengelolaan sampah yang terintegrasi. Dengan perencanaan yang matang dan fokus berkelanjutan pada pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Mandalika diproyeksikan dapat menyumbang 15% dari total target devisa pariwisata nasional pada tahun 2028, mengukuhkan posisinya sebagai destinasi pariwisata premium Indonesia.